Fikroh Pendidikan Trending

Futur Dalam Perjuangan Dakwah, Memilih Menyerah Atau Istiqomah

Bagi semua orang yang telah memilih jalan dakwah sebagai jalan perjuangannya, maka hendaknya mengingat kembali bahwasannya jalan tersebut adalah jalan yang tidak ringan, jalan yang tidak selalu ditaburi bunga-bunga nan indah, ia adalah jalan yang panjang, terjal dan penuh dengan ujian. Salah satu diantara ujian yang paling besar dalam perjuangan dakwah itu adalah futur.

Tidak heran jika menemukan realita, saudara-saudara yang dulu dalam satu perjuangan sedikit demi sedikit mulai jarang hadir, yang dulu semangatnya menyala berapi-api kini mulai redup melemah, ada yang mungkin masih bersama secara fisik namun hatinya sudah jauh berkelana entah kemana. Ini bukan cerita tentang seorang, namun ini merupakan suatu yang memang bisa menimpa siapa saja.

Rosulullah Muhammad Sholallahu’alaihi Wasallam telah mengingatkan jauh jauh hari;



إنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةً، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدْ أَهْتَدَى، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ

“Sesungguhnya setiap amalan itu ada masa semangatnya (puncak). Dan setiap masa semangat itu ada masa futurnya (lemah/malas). Barangsiapa yang masa futurnya masih dalam sunnahku, maka ia mendapatkan petunjuk. Namun barangsiapa yang masa futurnya selain itu, maka ia binasa.” [HR. Ahmad no. 6764, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Takhrij Kitabus Sunnah hal. 51].

Al-Imam Ibnu Qoyyim Rohimahullah dalam kitab Madarijus Salikin mengatakan, “futur adalah keniscayaan yang dialami oleh orang yang menempuh jalan Allah. Maka orang yang futurnya cenderung untuk kembali ke jalan lurus, tidak meninggalkan yang wajib serta tidak jatuh kepada yang haram maka ia akan kembali kepada keadaan yang lebih baik dari sebelumnya.”

Dengan demikian futur adalah fitrah manusia, semua orang bisa mungkin mengalaminya. Orang sholeh tidak menutup kemungkinan bisa futur, orang beriman suatu ketika bisa merasa lelah, pejuangpun suatu waktu bisa goyah. Maka futur bukanlah aib, yang menjadi aib adalah ketika kondisi futur kemudian menyebabkan dirinya berhenti, mundur dan menyerah dari perjuangan dakwah.

Pejuang dakwah harus mampu menjaga prinsip berjuangnya agar tidak mudah futur, prinsip itu adalah menepati janji yang sejak awal telah di ikrarkan serta niat dan tekat yang terus dijaga hingga akhir hayat. Apabila Allah Subhanahu wata’ala menguji dengan dihadapkan pada suatu fitnah/ujian baik berupa subhat ataupun syahwat, maka hendaknya berusaha dengan sungguh-sungguh sekuatnya untuk tetap bersabar dan bertahan tetap istiqomah.

Berdasarkan hal tersebut, penting bagi pejuang dakwah agar menjaga diri dari futur yang bisa membawa dari satu fase kepada fase lain yang berbahaya. Sering-sering untuk mengintropeksi diri, memperhatikan diri, apakah ada gejala futur yang menimpa. Mengetahui apa yang menjadi sebab futur dan bagaimana untuk mengatasinya. Berikut adalah diantara penyebab-penyebab futur yang sering terjadi dalam perjuangan dakwah serta bagaiamana mengantisipasinya:

Pertama, tidak terus-menerus memperbarui niat. Banyak orang diawal perjuangan dakwahnya memulai dengan niat yang ikhlas, namun ditengah perjalanan mulai merasa lelah dan berubah. Bisa jadi karena merasa tidak dihargai, tidak dipuji atau merasa pengorbanannya tidak dilihat manusia dan lain sebagainya. Penyakit-penyakit hati ini inilah yang disebut sebagai riya’-riya perjuangan yang bisa memalingkan diri dari perjuangan dakwah.

Hendaknya terus memperbarui niat, perjuangan yang panjang membutuhkan niat yang terus dijaga. Ketika lelah duduklah, istirahatlah sejanak namun jangan tinggalkan perjuangan. Tanyakan kepada diri, “apa yang menyebabkan diri ini lelah? Apakah lelah karena Allah? atau karena manusia!.” Bukankah Allah Ta’ala telah tegaskan “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (QS. Al-Bayyinah: 5).

Kedua, aktivitas padat namun tidak disertai ruhiyah atau kejiwaan yang kuat. Perjuangan tanpa ruhiyah ibarat mobil tanpa bahan bakar. Sebagus apapun mobil itu tidak akan mampu berjalan sampai kepada tujuannya. Allah Ta’ala menyebut bahwa kesuksesan (aflaha) itu sebagai hasil dari pembinaan dan pensucian jiwa “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya” (QS. Asy-Syams: 9-10).

Ketika Nabi Muhammad mengalami kesulitan yang berat dalam mendakwahi kaum beliau. Beliau bersimpuh di hadapan Allah diwaktu malam, rukuk dan sujud memohon kepada-Nya, tunduk dan merendahkan diri di hadapan-Nya. Qiyamullailbahkan pernah menjadi ibadah yang wajib bagi umat Islam selama satu tahun penuh. Hal ini karena Qiyamullai memiliki pengaruh yang kuat bagi jiwa. Oleh sebab itu perhatian terhadap pembinaan jiwa tetap harus dijaga sebagai sarana koneksi dengan Allah Ta’ala.

Ketiga, mudah baperan saat dalam barisan perjuangan. Baperan bisa terjadi disebabkan karena sikap yang merendahkan, perkataan yang menyakitkan, kritik yang asal-asalan atau mungkin perkataan-perkataan yang tidak disengaja. Namun perlu disadari juga bagi yang mudah merasa baperan agar tidak selalu overthingking, berusaha melatih kepercayaan diri dan tidak reaktif. Hal terpenting agar saling menjaga lisan, mengutamakan khusnudzon serta saling memaafkan, sebab tidak ada manusia yang tidak berdosa kecuali yang dikehendaki-Nya.

Keempat, kurang siap dengan ujian-ujian yang datang, mengira bahwasannya perjuangan dakwah selalu manis. Padahal Allah Ta’ala telah berfirman “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabut: 2).  Dengan demikian setiap orang harus mempersiapkan diri serta segala hal yang mendukungnya, sehingga ketika ujian itu datang, ia anggap sebagai kesempatan untuk pembuktian komitmen iman, penghapus dosa dan peningkatan derajat di sisi Allah Ta’ala.

Hasil akhir perjuangan dakwah itu milik Allah Ta’ala tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Proses untuk mencapainya itu milik kita, itulah yang harus di usahakan dengan sungguh-sungguh dan itu pulah yang harus dijaga dengan benar agar sampai pada tujuan. Pejuang dakwah tidak akan memilih menyerah ditengah jalan, pilihan-nya jelas adalah istiqomah. Meski dirinya lelah ia tetap kembali kepada-Nya, walau dirasa berat ia tetap tidak meninggalkan-Nya, karena bisa jadi langkah-langkah kecil yang tertatih-tatih itulah yang paling dicintai-Nya. Wallahuta’ala ‘alam.

admin

admin

About Author

Masyhadi Akhyar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dapatkan risalah terbaru dengan berlangganan

Jadi pertama yang tahu

We don’t spam! Read our privacy policy for more info.