Janji-janji tentang pertolongan dan kemenangan bagi orang-orang mukmin banyak termaktub dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Misalnya dalam surat Al-Mukmin ayat 51: “Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-sa ksi (hari kiamat)”. Surat As-Shaffat 171-173: Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. Serta masih banyak lagi ayat-ayat yang berkaitan dengannya.
Melalui ayat-ayatNya, Allah subhananhu wata’ala telah menjanjikan pertolongan kepada hamba-hambanya yang beriman untuk mengalahkan musuh-musuhnya, menjadikan agama Islam menjadi agama yang kuat serta menjadikan mereka sebagai kholifah di bumi. Namun dengan melihat realita hari ini, munculah pertanyaan dibenak banyak orang. Dimanakah kemenangan itu sekarang? Sementara banyak orang-orang beriman saat ini menderita, mereka disiksa bahkan tidak sedikit yang dibunuh diberbagai tempat dan waktu yang berbeda.
Menurut kaca mata orang mukmin ketika melihat kenyataan yang terjadi dilapangan berbeda dari apa yang dijanjikan Allah Ta’ala dalam kitabNya, maka keyakinan atas kebenaran Allah dan Al-Qur’an harus didahulukan serta keyakinan itu tetap tertanam kuat dalam hati orang beriman. Bahwa bahwa Allah Ta’ala pasti menepati janjinya dan bahwa Al-Qur’an pasti kebenarannya. Selanjutnya untuk menjawab pertanyaan tersebut, paling tidak ada dua perkara yang harus dilihat bagi orang mukmin.
Perkara Pertama: Bisa jadi kemenangan belum datang sebab kurangnya upaya yang dilakukan orang-orang mukmin dalam memenuhi syarat-syarat kemenangan, sehingga keadaan orang mukmin hari ini belum layak mewujudkan janji Allah Ta’ala. Hal yang yang sama dilakukan oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW, jika merasa kemenangan tertunda mereka segera mengevaluasi diri mereka, melihat dosa-dosa serta kekurangan yang telah dilakukan. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Ali Imron 165:
أَوَلَمَّآ أَصَٰبَتْكُم مُّصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُم مِّثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِندِ أَنفُسِكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
Artinya: Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Perkara Kedua: bisa jadi kemenangan belum datang sebab belum sepenuhnya memahami bagaimana hakikat kemenangan itu sendiri.
Hakikat kemenangan yang dijanjikan Allah Ta’ala akan datang setelah berlaku sunnatullahNya. Bahwa kemenangan dan pertolongan Allah tidak akan datang kecuali setelah Allah Ta’ala menguji hamba-hambanya dengan ujian yang membuat orang-orang beriman semakin teguh keimanannya serta perjuangannya. Sebagaimana Nabi dan para sahabatnya juga mengalami ujian-ujian yang berat dan panjang di Makkah sebelum akhirnya hijrah ke Madinah kemudian Allah berikan pertolongan-pertolongan-Nya.
Oleh karena itu Imam Asy-Syafi’i pernah berkata:
سئل الشافعي – رحمه الله –: أيهما أفضل للرجل أن يمكّن أو يبتلى؟ قال: (لا يمكّن حتى يبتلى)
Artinya: Imam Asy-Syafi’i Rohimahullahu pernah ditanya: manakah yang lebih baik bagi seseorang, diteguhkan atau diuji? Beliau menjawab: ia tidak akan diteguhkan hingga ia diuji (dahulu). Kitab Zaadul Maa’d (14/3).
Hakikat kemenangan yang dijanjikan Allah Ta’ala kepada hambanya yang beriman tidak hanya sebatas kemenangan dengan mengalahkan musuh-musuhnya semata, sebagaimana diketahui banyak orang. Terdapat beberapa bentuk kemenangan lain yang juga Allah Ta’ala berikan kepada hambanya dan hal ini juga bagian dari kemenangan yang didapatkan oleh orang-orang beriman. Berikut beberapa bentuk pertolongan atau kemenangan yang Allah sebutkan di dalam Al-Qur’an:
- Kemenangan dalam bentuk keunggulan, kekuasaan dan kehancuran bagi orang-orang yang dholim.
Hal ini terjadi dalam kisah Nabi Musa dan pengikutnya yang beriman, Allah selamatkan dan beri kekuasaan setelah mereka dihinakan. Allah tenggelamkan dan hancurkan Fir’aun dengan bala tentaranya. Allah berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 137: “Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka”.
- Kemenangan dalam bentuk hujjah dan penjelasan
Hujah merupakan bagian dari pertolongan Allah Ta’ala kepada hambanya yang beriman. Pertolongan dalam bentuk hujjah yang benar dan jelas bagi orang yang beriman terhadap musuhnya terkadang lebih kuat pengaruhnya daripada serangan dalam bentuk fisik. Hujjah dapat menggoyahkan akal, menghancurkan syubhat dan propaganda yang dibuat oleh orang-orang dholim. Allah Ta’ala berfirman, Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat). (QS. Al Mukmin: 51).
Menurut Abu Al-Aliyah – rahimahullah – terkait dengan ayat ini:
عن أبي العالية – رحمه الله – في قوله (إنَا لَنَنْصُرُ رُسُلُنَا) الآية، قال: ذلك في الحجة، يفتح الله حجتهة في الدنيا
Artinya: Dari Abu Al-Aliyah – rahimahullah – tentang firman Allah (Sesungguhnya kami akan menolong utusan-utusan kami), beliau berkata: Itu adalah dalam hal hujjah, Allah Ta’ala membuka hujah mereka di dunia. Tafsir Ibnu Abiy Haatim (18437).
- Kemenangan berupa balasan siksaan Allah terhadap orang yang dholim serta kemenangan atas perkara yang diperjuangkan
Kemenangan ini terjadi sebagai balasan dari Allah terhadap orang-orang dholim yang telah membunuh para Nabi atau orang-orang beriman. Syakh Assudiy dalam Tafsir Ibnu Katsir berkata:
قَالَ السُّدِّيّ: لمْ يبْعث اللّهُ -عزّ وجلّ- رسولًا قطّ إلى قَوْم فيقتلونه، أوْ قومًا مِنْ المؤمنين يدْعُون إلى الحقّ فيُقتلون، فيذهب ذلك القرن حتّى يبعث اللّه لهم من ينصرهم فيطلب بدمائهم ممّن فعل ذلك بهم في الدّنْيا
Artinya: “Tidaklah Allah mengutus seorang rasul kepada suatu kaum lalu mereka membunuhnya, atau (membunuh) sekelompok orang beriman yang menyeru kepada kebenaran, melainkan tidak berlalu generasi itu sampai Allah mengutus orang yang menolong mereka, lalu menuntut balas atas darah mereka dari orang-orang yang berbuat itu di dunia.” Tafsir Ibnu Katsir (150/7).
Selain itu Allah ta’ala juga akan memberikan kemenangan terhadap risalah yang diperjuangkan orang-orang beriman di dunia ini, meskipun sebagian mereka tidak melihat kemenangan itu. Hal ini sebagaimana Allah Ta’ala menangkan risalah tauhid yang telah diperjuangkan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Meskipun ada diantara mereka yang menyaksikan kemenangan itu adapula yang telah gugur sebagai syuhada di jalan Allah. Allah Ta’ala ingin tinggikan kalimatNya dan rendahkan kalimat orang-orang dholim.
- Kemenangan dalam bentuk gagalnya makar yang dibuat orang kafir sehingga menjadikan mereka kecewa atau marah
Bentuk kemenangan ini terkadang kurang disadari oleh banyak orang. Allah Ta’ala terkadang memberikan pertolongannya kepada orang-orang beriman, khususnya ketika mereka lemah dengan bentuk menghancurkan tipu daya orang kafir serta menahan tangan-tangan dholim mereka. Masih ingatkah pada kejadian perang khondaq, Allah Ta’ala buat orang-orang kafir qurois kecewa dan marah disebabkan parit yang menghalangi mereka untuk menyerang orang-orang mukmin. Mereka merasa akan mendapatkan kemenangan hari itu, namun Allah gagalkan makar mereka sehingga mereka kembali dengan merasa kalah.
Syakih As-Sa’di berkata dalam kitab tafsirnya:
قال السعدي: وإذا تأمّلْتَ الواقع رأيتَ نصر الله لعباده المؤمنين دائرًا بين هذين الأمرين، غير خارج عنهما؛ إمّا نصر عليهم، أو خذل لهم
Artinya: Jika engkau merenungi realitas yang ada, niscaya engkau akan melihat bahwa pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman berputar pada dua hal ini, tidak keluar darinya, bisa jadi Allah menangkan mereka atas musuhnya atau mengecewakan musuh untuk merekan. Tafsir As-Sa’diy (146).
- Pertolongan Allah dalam bentuk pengakuan dari pelaku kedholiman
Dalam persitiwa peperangan, standar bisa dikatakan menang atau kalah suatu kelompok bisa jadi berbeda beda. Tidak selalu kekalahan atau kemenangan ditentukan oleh banyaknya korban, wilayah yang dikuasai atau hancurnya fasilitas. Perdebatan kalah menang akan selesai ketika salah satu dari dua pihak mengakui kekalahannya. Dalam Al-Qur’an terdapat pengakuan orang-orang kafir atas kekalahannya dihadapan orang-orang mukmin. Pengakuan ini bisa terjadi di dunia ataupun di akhirat.
Pengakuan di dunia, sebagaimana kelahan Fir’aun dihadapan Musa dan pengikutnya. Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Yunus ayat 90-91. Artinya: Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.
Pengakuan di akhirat, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Mulk ayat 11. Artinya: Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.
Akhirnya, janji Allah itu pasti nyata. Pertolongan dan kemenangan yang dijanjikan Allah pasti datang bagaimanapun bentuknya. Ia tidak datang sesuai keinginan manusia, ia datang sesuai dengan kehendakNya bersama dengan hikmah dariNya. Tugas orang beriman tidak sekedar menunggu kapan kemenangan itu datang, tapi berusaha memantaskan diri agar layak mendapatkannya. Maka jangan pernah tinggalkan iman, dakwah harus terus berjalan, dan kesabaran tidak boleh ditinggalkan. Jika ia tidak datang hari ini, maka masih ada esok. Jika tidak menjumpainya di dunia, pasti mendapat gantinya di akhirat. Yang pasti kemenangan itu adalah milik orang-orang beriman. Wallahu’tala ‘alam bisshowab.
By: Masyhadi Ahyar

