Rasa malu bagi seorang Muslimah adalah paras yang indah dan cantik melebihi paras yang dibalut dengan perlengkapan kosmetik semahal apapun harganya. Dalam hal ini tentunya rasa malu yang dimaksud adalah rasa malu kepada Allah ketika melakukan maksiat kepadaNya.
Malu sebagaimana yang Allah gambarkan dalam Al-Qur’an ketika salah satu dari dua orang perempuan sholehah berjalan dengan cara berjalannya gadis suci yang terhormat dengan menjaga dirinya, tidak genit, tidak berlebihan meski terlihat rasa malu dalam dirinya saat berjalan dan menyampaikan pesan dari ayahnya untuk Nabi Musa ‘Alaihissalam
فَجَاءتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاء قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ -٢٥-
Artinya: Kemudian datanglah kepada Nabi Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Nabi Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Nabi Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu”. (QS. Al-Qoshos [28]: 25)
Amirul Mukminin Umar bin Khatthab Radhiyallahu ‘anhu mengatakan, gadis itu menemui Nabi Musa ‘Alaihis salaam dengan rasa malu serta menutupkan pakaian yang tertutup rapat dan sikap yang sopan. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim).
Di jaman sekarang, kita melihat hari ini gadis-gadis berlomba lomba tampil cantik didepan umum, bahkan ada yang menghabiskan biaya yang tidak sedikit untuk perawatan paras dan kulit mereka agar terlihat cantik, ditambah lagi aurat yang tampak terlihat oleh semua mata yang memandang. Mereka khawatir jika tidak melakukan hal tersebut maka tidak ada laki-laki yang mau denganya, takut kalau mereka tidak mendapat pasangan.
Berpenampilan cantik untuk mendapat perhatian laki-laki yang bukan suaminya jelas dilarang dalam Islam. Seorang Mulimah sejati tentunya tidak akan melakukan hal hal yang dilarang oleh Allah. Cukup bagi mereka mempercantik dirinya dengan rasa malu, menjaga dirinya dari berkhalawat, menutup aurat dan terus muhasabah terhadap amal perbuatannya. Mereka yaqin kepada Allah bahwa ketika mereka sibuk memperbaiki dirinya maka Allah juga akan menyiapkan jodoh yang terbaik untuknya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاء
“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.” (HR. Ibnu Majah no. 4181)
Dalam hadits lain Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan;
الحَيَاءُ وَالإيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا ، فَإنْ رُفِعَ أحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَر
“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lain pun akan terangkat.” (HR. Al Hakim dalam Mustadroknya 1/73)
Begitu jelas Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam memberikan nasihat kepada kita, bahwasanya rasa malu adalah ciri dari akhlaq Islam. Bahkan rasa malu tak terlepas dari iman dan sebaliknya. Maka terkhusus bagi seorang Muslimah yakinlah bahwa kecantikan yang hakiki adalah ketika engkau berhias dengan Malu karena ia adalah akhlaq dan imanmu.
By: Masyhadi Akhyar


