Keilmuan Pemuda Pendidikan

Diantara Tipu Daya dan Makar Setan

womans face in dark room

Di antara tipu daya dan makar setan” biasanya merujuk pada bagaimana setan menyesatkan manusia secara bertahap—bukan selalu dengan mengajak langsung kepada dosa besar. Dalam perspektif Islam, di antara caranya adalah:


Pertama: Mengubah ciptaan Allah

Allah Ta’ala berfirman: “Dan sungguh akan aku perintahkan mereka, lalu mereka benar-benar akan mengubah ciptaan Allah.” (QS. An-Nisa’: 119)

Setan tidak hanya berusaha menjerumuskan manusia dengan menyelisihi syariat Allah, tetapi juga mendorong mereka untuk menyelisihi Allah dalam ciptaan-Nya.

Para ulama tafsir menyebutkan beberapa bentuk perubahan terhadap ciptaan Allah yang dilakukan oleh masyarakat jahiliah, seperti mencungkil mata unta yang disebut al-hami, yaitu unta yang dianggap telah banyak menghasilkan keturunan sehingga punggungnya “diharamkan” untuk ditunggangi dan dibiarkan untuk sesembahan mereka.

Di antara bentuk perubahan lainnya adalah yang didorong oleh tujuan-tujuan tercela, seperti tato (wasm), serta memberi cap atau membakar wajah hewan dengan api.

Termasuk dalam makna mengubah ciptaan Allah adalah menempatkan makhluk tidak sesuai dengan tujuan penciptaannya. Misalnya menjadikan bintang-bintang dan planet sebagai sesembahan, atau menganggap gerhana matahari dan gerhana bulan sebagai penentu nasib dan keadaan manusia. Semua itu termasuk bisikan dan tipu daya setan untuk memalingkan manusia dari ibadah dan tauhid kepada Allah.


Kedua: Menghalangi manusia dari mengingat Allah

Allah Ta’ala berfirman: “Dan (setan) menghalangi kalian dari mengingat Allah dan dari salat.”

Ini merupakan salah satu tujuan terbesar setan, yaitu menanamkan kelalaian dalam hati manusia sehingga lebih mudah menguasai mereka. Sebab, zikir kepada Allah adalah pengusir setan yang paling kuat.

Allah menggambarkan setan dengan dua sifat yang saling berkaitan, yaitu: “Al-waswas al-khannas” atau (pembisik yang bersembunyi).

Al-waswas adalah bisikan yang dilemparkan Iblis ke dalam hati manusia, sedangkan al-khannas berarti yang selalu mundur dan bersembunyi.

Mujahid rahimahullah berkata: “Apabila Allah disebut (dizikirkan), setan mundur dan menyusut. Namun apabila Allah tidak disebut, ia menguasai hati manusia.”


Ketiga: Menyesatkan para ulama

Ini merupakan salah satu target yang paling diinginkan setan. Sebab, sesatnya seorang alim sering kali berarti sesat pula para pengikutnya.

Allah menceritakan tentang seorang berilmu yang lebih memilih hawa nafsunya daripada ketaatan kepada Rabbnya. Akibatnya, setan berhasil menguasainya hingga ia menjadi bagian dari pasukan setan. Padahal sebelumnya ia adalah sumber petunjuk dan bimbingan bagi manusia.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan bacakanlah kepada mereka kisah orang yang telah Kami berikan ayat-ayat Kami kepadanya, kemudian ia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu setan mengikutinya sehingga ia termasuk orang-orang yang sesat.” (QS. Al-A’raf: 175)

Karena itu, seorang alim harus lebih berhati-hati terhadap jerat dan tipu daya Iblis. Ia harus menyadari bahwa ilmunya semata tidak menjadikannya aman dari makar setan. Hanya Allah dengan pertolongan dan kekuatan-Nya yang mampu menjaga seseorang dari tipu daya tersebut.


Keempat: Godaan dan bisikan setan (Nazgh asy-Syaithan)

Allah Ta’ala berfirman: “Dan jika engkau digoda oleh suatu godaan dari setan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200)

Allah menyerupakan masuknya bisikan setan ke dalam jiwa manusia dengan tusukan jarum yang halus dan samar. Perumpamaan ini sangat indah dan tepat, karena manusia sering kali tidak menyadari bisikan Iblis yang masuk ke dalam hatinya.

Bahkan terkadang seseorang berada dalam kelalaian yang begitu besar sehingga ia tidak merasakan pengaruh buruk dari bisikan tersebut.

Karena itu Allah menunjukkan jalan untuk menolak bisikan setan dan menghilangkan pengaruhnya, yaitu dengan berlindung kepada-Nya dan memohon perlindungan dari setan serta tipu dayanya.


Kelima: Godaan yang Berputar Mengelilingi Manusia (Thaif asy-Syaithan)

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, apabila mereka ditimpa godaan dari setan, mereka segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka dapat melihat (kebenaran).” (QS. Al-A’raf: 201)

Dalam ayat ini terdapat gambaran yang sangat indah tentang cara Iblis menyesatkan manusia. Ia selalu berputar mengelilingi mereka sebagaimana seseorang yang mengitari suatu tempat sebelum memasukinya. Ketika ia mendapati manusia berada dalam keadaan lalai dan berpaling dari Allah, ia pun menyentuh mereka dengan godaannya, lalu menanamkan berbagai lintasan maksiat dan pikiran buruk ke dalam jiwa mereka.

Namun seorang mukmin yang bertakwa memahami tipu daya setan dan mengetahui makar-makarnya. Karena itu ia segera mengusirnya dengan mengingat Allah sebelum bisikan-bisikan tersebut menguasai jiwanya. Sebab lintasan-lintasan hati yang dibiarkan akan berubah menjadi keinginan kuat, kemudian menjadi perbuatan, lalu menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan.


Keenam: Menghasut Manusia dan Ikut Campur dalam Harta serta Anak-anak Mereka

Allah Ta’ala berfirman: “Dan hasutlah siapa saja di antara mereka yang engkau mampu dengan suaramu, kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukan berjalan kaki milikmu, berserikatlah dengan mereka dalam harta dan anak-anak, serta berilah mereka janji-janji. Padahal setan tidak menjanjikan kepada mereka selain tipuan belaka.” (QS. Al-Isra’: 64)

Ayat ini menggambarkan peperangan terbesar dan tertua sepanjang sejarah, yaitu peperangan yang medan tempurnya adalah hati dan akal manusia. Pihak-pihak yang terlibat adalah setan dan anak cucu Adam. Tujuannya adalah menguasai manusia lahir dan batin serta menundukkannya kepada ketaatan terhadap Iblis dan golongannya.

Senjata Iblis dalam peperangan ini adalah “suaranya”, yaitu segala suara yang mengajak kepada kemaksiatan, kemungkaran, dan apa saja yang diserukan oleh setan. Adapun “pasukan berkuda dan berjalan kaki” adalah para pengikut dan tentaranya yang diutus untuk menyesatkan manusia.

Dalam hadis riwayat Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian mengirim pasukan-pasukannya. Yang paling dekat kedudukannya dengannya adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya.”

Di antara senjata Iblis lainnya adalah janji-janji dan angan-angan kosong yang ia tanamkan kepada manusia agar mereka menaati perintahnya. Dengan senjata inilah Iblis berhasil mengeluarkan Nabi Adam dan istrinya dari surga ketika ia berkata:

“Tuhan kalian tidak melarang kalian dari pohon ini melainkan agar kalian tidak menjadi malaikat atau menjadi orang-orang yang kekal.”

Padahal janji tersebut hanyalah dusta dan tipuan semata.


Ketujuh: Membisikkan dan Menumbuhkan Angan-Angan Panjang

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berbalik ke belakang (murtad) setelah petunjuk menjadi jelas bagi mereka, setan telah menghiasi (perbuatan mereka) dan memanjangkan angan-angan mereka.” (QS. Muhammad: 25)

Ini merupakan salah satu cara setan menyesatkan orang yang sebenarnya telah mengetahui kebenaran dan mengenal petunjuk. Ia menghias kebatilan, memperindahnya, membuatnya tampak menarik dan mudah dilakukan, sehingga jiwa manusia menerimanya dengan senang hati tanpa merasa berat ataupun terpaksa.

Apabila muncul dalam diri seseorang ingatan tentang kematian atau rasa takut kehilangan kesempatan bertaubat, Iblis mengobatinya dengan “imla'” yaitu memperpanjang angan-angan dan membuatnya merasa masih memiliki umur yang panjang, sehingga ia terus menunda taubat dan perbaikan diri.


Kedelapan: Bisik-bisik Rahasia yang Bersumber dari Setan

Secara bahasa, najwa berarti percakapan rahasia yang dilakukan antara dua orang atau lebih.

Najwa yang berasal dari setan adalah pembicaraan rahasia yang berisi persekongkolan untuk menentang kebenaran, menyakiti seorang muslim, atau menimbulkan keraguan dan kecemasan dalam dirinya.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu berasal dari setan agar orang-orang yang beriman menjadi sedih, padahal pembicaraan itu tidak akan memberi mudarat sedikit pun kepada mereka kecuali dengan izin Allah. Dan kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal.” (QS. Al-Mujadilah: 10)

Qatadah berkata: “Orang-orang munafik sering berbisik-bisik di antara mereka, dan hal itu membuat orang-orang beriman merasa terganggu dan gelisah. Maka Allah menurunkan ayat ini.”

Dalam hadis sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila kalian bertiga, maka janganlah dua orang berbisik-bisik tanpa melibatkan yang ketiga, karena hal itu dapat membuatnya bersedih.”

Ini merupakan adab yang sangat luhur dan bentuk penjagaan yang bijaksana untuk menghindarkan prasangka, keraguan, dan kecurigaan di antara sesama manusia.

Adapun apabila terdapat kebutuhan yang sah untuk merahasiakan suatu urusan, menjaga amanah, atau membahas persoalan umum maupun khusus yang memang perlu dirahasiakan, maka hal itu diperbolehkan.


Kesembilan: Wahyu Setan kepada Para Pengikutnya dari Kalangan Manusia

Yang dimaksud dengan “wahyu setan” di sini adalah bentuk bisikan dan inspirasi jahat yang diberikan kepada para pengikutnya. Tujuannya adalah membekali orang-orang kafir dengan berbagai argumen yang mereka sangka sebagai kebenaran, agar mereka tetap bertahan dalam kebatilan yang mereka anut.

Ini termasuk salah satu bentuk tipu daya setan yang paling berbahaya, karena mendorong manusia untuk menentang perintah dan syariat Allah, dengan cara menghalalkan apa yang Allah haramkan atau mengharamkan apa yang Allah halalkan.

Dengan cara demikian, setan tidak hanya menyesatkan individu, tetapi juga berusaha membangun pemikiran dan keyakinan yang menentang petunjuk Allah serta mempertahankan manusia dalam kesesatan yang mereka pilih


Kesembilan (lanjutan): Wahyu Setan kepada Para Pengikutnya dari Kalangan Manusia

Di antara bentuk “wahyu” atau bisikan setan yang disebutkan Allah adalah firman-Nya: “Dan janganlah kamu memakan hewan yang ketika disembelih tidak disebut nama Allah atasnya. Sesungguhnya itu adalah suatu kefasikan. Dan sungguh, setan-setan itu membisikkan kepada kawan-kawan mereka agar mereka membantah kalian. Jika kalian menuruti mereka, maka sesungguhnya kalian benar-benar menjadi orang-orang musyrik.” (QS. Al-An’am: 121)

Setan membisikkan kepada orang-orang musyrik agar mereka membantah hukum haramnya bangkai dengan mengatakan: “Wahai Muhammad, apakah yang kalian sembelih dengan tangan kalian sendiri halal, sementara yang dibunuh oleh Allah justru haram?”

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa beberapa orang datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata: “Wahai Rasulullah, apakah kami memakan apa yang kami bunuh, tetapi tidak memakan apa yang Allah matikan?”

Maka Allah menurunkan ayat tersebut.

Tidak diragukan lagi bahwa argumen setan dan para pengikutnya hanyalah upaya mengaburkan kebenaran. Sebab setiap makhluk yang mati atau terbunuh pada hakikatnya mati dengan ketetapan dan takdir Allah ketika ajalnya telah tiba. Karena itu, mengkhususkan sebagian kematian sebagai “dibunuh Allah” dan sebagian lainnya tidak, merupakan argumentasi yang batil.


Kesepuluh: Turunnya Setan kepada Dukun dan Peramal

Terdapat hubungan dan kerja sama antara setan dengan para dukun dan peramal. Setan memberikan kepada mereka sebagian informasi yang dicuri dari langit, lalu para dukun menggunakan informasi tersebut untuk menyesatkan manusia. Mereka mencampurkan satu berita yang benar dengan puluhan bahkan ratusan kebohongan dan tipu daya.

Karena itulah Allah memperingatkan manusia terhadap mereka dan menjelaskan hakikat mereka. Apa yang mereka bawa bukanlah wahyu dari malaikat Allah, melainkan bisikan setan.

Allah Ta’ala berfirman: “Maukah Aku beritakan kepada kalian kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada setiap pendusta yang banyak berbuat dosa. Mereka mencuri dengar, dan kebanyakan mereka adalah pendusta.” (QS. Asy-Syu’ara: 221–223)

Dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ ketika ditanya tentang para dukun bersabda: “Mereka bukan apa-apa.”

Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, terkadang mereka menyampaikan sesuatu yang ternyata benar.”

Beliau menjawab: “Itu adalah satu kalimat kebenaran yang dicuri oleh jin, lalu dibisikkan ke telinga walinya seperti suara ayam. Kemudian mereka mencampurkannya dengan lebih dari seratus kebohongan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ayat ini menjelaskan bahwa keadaan para dukun terkadang dapat membingungkan orang yang lemah pemahamannya karena sekilas menyerupai berita gaib yang dibawa para nabi. Padahal perbedaannya sangat jauh.

Berita para nabi penuh dengan petunjuk, akhlak, pendidikan, kebenaran, dan mukjizat. Sedangkan para dukun hanya sesekali menyampaikan sedikit kebenaran yang bercampur dengan banyak kebohongan.


Kesebelas: Menanamkan Keraguan dalam Akidah Orang Beriman

Ini merupakan salah satu prioritas utama setan dalam menyesatkan manusia. Sebab apabila keraguan telah masuk ke dalam hati seorang mukmin mengenai agamanya, maka iman dan keyakinannya akan melemah. Iman tidak dapat berdiri bersama keraguan; sebagaimana keyakinan merupakan ciri keimanan, keraguan merupakan jalan menuju kekufuran.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (QS. Al-Hujurat: 15)

Rasulullah ﷺ juga memperingatkan bahwa setan akan datang kepada seorang mukmin dan membisikkan pertanyaan-pertanyaan yang menimbulkan keraguan, bahkan mengenai asal-usul penciptaan.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi ﷺ bersabda: “Setan datang kepada salah seorang dari kalian lalu berkata: Siapa yang menciptakanmu? Ia menjawab: Allah. Lalu setan berkata: Siapa yang menciptakan Allah? Jika salah seorang dari kalian mendapati hal itu, hendaklah ia berkata: Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, karena hal itu akan menghilangkan gangguan tersebut.”

Al-Munawi menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memerintahkan untuk berpaling dari bisikan semacam ini karena ia hanyalah waswas yang tidak berdasar.

Imam Al-Ghazali juga menjelaskan bahwa di antara tipu daya setan adalah mendorong orang awam yang tidak memiliki ilmu yang mendalam untuk memikirkan hakikat zat dan sifat Allah dalam perkara-perkara yang berada di luar jangkauan akalnya. Akibatnya, ia bisa terjatuh ke dalam keraguan, kesesatan, bahkan mengira bahwa khayalan dan sangkaannya adalah bentuk kecerdasan dan pengetahuan.

Padahal orang yang paling berakal adalah orang yang menyadari keterbatasan dirinya, merujuk kepada para ulama, dan mengikuti petunjuk yang benar.


Kedua Belas: Pemborosan dan Berlebih-lebihan

Pemborosan (tabdzir) dan berlebih-lebihan (israf) merupakan dua jalan yang sangat disukai setan.

Pemborosan berarti menghamburkan harta dalam kemaksiatan atau perkara yang tidak bermanfaat. Sedangkan israf adalah penggunaan harta secara berlebihan untuk kesenangan dan hal-hal yang sia-sia sehingga menghalangi pemanfaatannya untuk kebaikan.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 27)

Makna “saudara-saudara setan” adalah bahwa mereka menjadi pengikut dan sekutu setan, sebagaimana seorang saudara mengikuti saudaranya.


Penutup

Inilah sebagian cara dan strategi setan dalam menyesatkan manusia, merusak mereka, dan menghalangi mereka dari beribadah kepada Allah. Meskipun Allah telah menjelaskan semuanya dengan sangat terang dan memberikan peringatan yang jelas, tetap saja kebanyakan manusia mengikuti setan.

Penyebabnya adalah karena jalan menuju Allah dipenuhi berbagai kesulitan dan perjuangan, sedangkan jalan setan dipenuhi syahwat dan kenikmatan sesaat. Jiwa manusia cenderung memilih kesenangan yang cepat dirasakan, meskipun akhirnya mendatangkan penyesalan dan penderitaan, dibandingkan kesulitan yang pada akhirnya mengantarkan kepada surga.

Allah Ta’ala berfirman: “Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 16–17)

Rasulullah ﷺ bersabda: “Surga dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai (oleh hawa nafsu), sedangkan neraka dikelilingi oleh berbagai syahwat.” (HR. Muslim)

Karena itu, seorang muslim yang menginginkan keselamatan hendaknya senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan dan tipu daya setan, memahami berbagai makar dan strateginya, serta berusaha mengendalikan hawa nafsunya. Sebab syahwat merupakan pintu masuk menuju berbagai dosa dan kemaksiatan.

admin

admin

About Author

Masyhadi Akhyar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dapatkan risalah terbaru dengan berlangganan

Jadi pertama yang tahu

We don’t spam! Read our privacy policy for more info.