Fikroh Pemuda Pendidikan

Hari Pendidikan Nasional yang Tak Lagi Mendidik

man in yellow suit standing near people during daytime

Setiap tanggal 2 Mei, negeri ini kembali merayakan Hari Pendidikan Nasional. Upacara digelar dengan khidmat. Pidato-pidato penuh optimisme dibacakan. Spanduk bertuliskan “Merdeka Belajar” dan “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” menghiasi sekolah hingga kantor pemerintahan. Sejenak, pendidikan tampak baik-baik saja.

Namun di balik seremonial itu, ada kenyataan yang sulit dibantah: pendidikan kita sedang mengalami krisis yang jauh lebih dalam daripada sekadar persoalan kurikulum atau fasilitas. Krisis itu menyentuh watak, moral, bahkan arah hidup generasi. Ironisnya, semua itu terjadi justru ketika dunia pendidikan terus dipuji sebagai jalan menuju masa depan bangsa.

Berbagai peristiwa yang muncul di media hanyalah puncak gunung es. Di Bantul, seorang pelajar meregang nyawa akibat pengeroyokan sesama remaja. Di Kendari, aparat menemukan pelajar yang terlibat jaringan narkotika. Di ruang digital, mahasiswa dari kampus ternama menjadikan perempuan sebagai bahan pelecehan verbal tanpa rasa malu. Belum lagi maraknya tawuran, perundungan, pornografi, judi online, hingga budaya pacaran bebas yang semakin dianggap lumrah di kalangan pelajar.

Pertanyaannya, di mana letak pendidikan dalam semua itu? Bukankah sekolah seharusnya menjadi tempat lahirnya manusia beradab? Bukankah kampus seharusnya melahirkan generasi yang berpikir matang dan bermoral tinggi? Mengapa justru banyak penyimpangan lahir dari lingkungan yang disebut “terdidik”? Ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang keliru, bukan hanya pada perilaku individu, tetapi pada arah pendidikan itu sendiri.

Pendidikan yang Kehilangan Ruh

Hari ini, pendidikan lebih sering dipahami sebagai jalan mendapatkan pekerjaan dan materi. Sekolah dipaksa mencetak lulusan yang “siap kerja”, sementara aspek pembentukan akhlak perlahan disingkirkan ke pinggir.

Akibatnya, ukuran keberhasilan berubah. Nilai menjadi lebih penting daripada kejujuran. Gelar lebih dibanggakan daripada adab. Prestasi akademik dipuja, meskipun diperoleh dengan cara curang. Praktik joki ujian, plagiarisme, hingga bisnis pengerjaan tugas kini bukan lagi hal yang memalukan. Bahkan sebagian pelajar menganggapnya sebagai “cara cerdas” untuk bertahan dalam kompetisi. Ini adalah tanda bahwa pendidikan telah kehilangan ruhnya.

Lebih menyedihkan lagi, hubungan murid dan guru ikut mengalami kerusakan. Guru tidak lagi dipandang sebagai sosok yang dihormati, tetapi sekadar pekerja jasa pendidikan. Ketika guru mencoba mendisiplinkan murid, tak sedikit yang justru berujung konflik dan pelaporan hukum. Otoritas moral guru perlahan runtuh.

Padahal dalam tradisi Islam, keberkahan ilmu sangat berkaitan dengan penghormatan kepada guru. Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata:

“Aku membuka lembaran kitab di hadapan Imam Malik dengan sangat pelan karena takut suaranya mengganggu beliau.”

Begitulah adab para penuntut ilmu dahulu. Mereka tidak hanya mengejar ilmu, tetapi juga keberkahan dan akhlak. Kini, banyak pelajar mengenal teknologi lebih cepat daripada mengenal adab. Mereka mampu mengakses jutaan informasi, tetapi miskin arah dan kendali diri.

Sekularisme dan Kapitalisme dalam Dunia Pendidikan

Akar masalah ini tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang memisahkan agama dari kehidupan sekaligus menjadikan materi sebagai tujuan utama. Dalam sistem seperti ini, pendidikan direduksi menjadi alat produksi ekonomi. Sekolah berubah seperti pabrik yang mencetak tenaga kerja sesuai kebutuhan pasar. Sementara nilai-nilai spiritual hanya menjadi pelengkap yang minim pengaruh.

Anak-anak diajarkan bagaimana menjadi sukses, tetapi tidak diajarkan untuk apa kesuksesan itu digunakan. Mereka dilatih bersaing, tetapi tidak dibimbing mengendalikan hawa nafsu. Mereka dipacu mengejar cita-cita dunia, tetapi asing terhadap tujuan hidup yang hakiki. Dari sinilah lahir generasi yang cerdas secara akademik, tetapi rapuh secara moral. Generasi yang mahir berbicara tentang teknologi, tetapi mudah terjerumus narkoba. Generasi yang pandai menghafal teori, tetapi gagal menghormati orang tua dan gurunya.

Ketika agama dipisahkan dari kehidupan, maka standar benar dan salah tidak lagi ditentukan oleh halal dan haram, melainkan oleh untung dan rugi. Akibatnya, kecurangan dianggap wajar selama menghasilkan keuntungan. Kebebasan dianggap hak mutlak meskipun merusak moral. Bahkan penyimpangan perilaku sering dibela atas nama “ekspresi diri”. Inilah buah pahit dari pendidikan yang kehilangan fondasi akidah.

Pendidikan dalam Pandangan Islam

Islam memandang pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, tetapi proses pembentukan manusia seutuhnya. Tujuan pendidikan dalam Islam adalah melahirkan manusia yang berilmu, beradab, bertakwa, serta memahami tujuan hidupnya sebagai hamba Allah. Karena itu, pendidikan Islam tidak hanya mengisi akal, tetapi juga membina hati dan perilaku. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Hadis ini menunjukkan bahwa inti pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak. Dalam Islam, ilmu tidak boleh dipisahkan dari iman. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)

Artinya, ilmu yang benar akan melahirkan ketakwaan, bukan kesombongan dan kerusakan.

Membangun Kembali Generasi Beradab

Jika akar persoalannya adalah sistem, maka solusi tidak cukup dengan slogan, pergantian kurikulum, atau seremoni tahunan. Yang dibutuhkan adalah perubahan mendasar dalam arah pendidikan. Pendidikan harus dikembalikan pada tujuan hakikinya: membentuk manusia yang mengenal Tuhannya, memahami halal dan haram, serta menjadikan ilmu sebagai jalan menuju kebaikan.

Negara pun harus hadir bukan sekadar sebagai regulator administratif, tetapi sebagai penjaga moral generasi. Pendidikan tidak boleh tunduk pada kepentingan industri dan pasar semata. Ia harus dibangun di atas fondasi akidah dan nilai kebenaran.

Keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara juga harus berjalan dalam satu visi. Sebab mustahil sekolah mampu melahirkan generasi saleh jika lingkungan sosial justru merusak akhlak setiap hari. Di sinilah pentingnya membangun ekosistem kehidupan yang mendukung ketakwaan, bukan sekadar kecerdasan intelektual.

Hardiknas Jangan Hanya Menjadi Seremoni

Hari Pendidikan Nasional semestinya menjadi momen muhasabah besar, bukan sekadar acara tahunan penuh formalitas. Kita harus berani jujur bahwa pendidikan hari ini sedang menghadapi krisis serius. Yang dipertaruhkan bukan hanya nilai ujian atau ranking sekolah. Yang dipertaruhkan adalah masa depan generasi dan arah peradaban bangsa. Apakah kita ingin melahirkan generasi yang cerdas tetapi kehilangan nurani? Ataukah generasi yang berilmu, berakhlak, dan memiliki tujuan hidup yang benar?

Jawaban atas pertanyaan itu tidak akan lahir dari panggung seremoni. Ia lahir dari keberanian untuk memperbaiki akar persoalan dan mengembalikan ruh pendidikan yang selama ini hilang. Sebab jika tidak, maka setiap peringatan Hardiknas hanya akan menjadi pengulangan tanpa makna, sementara kerusakan terus tumbuh perlahan di depan mata kita.

admin

admin

About Author

Masyhadi Akhyar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dapatkan risalah terbaru dengan berlangganan

Jadi pertama yang tahu

We don’t spam! Read our privacy policy for more info.