Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Di tengah gencatan senjata yang masih rapuh usai perang selama 40 hari, Israel dan Amerika Serikat kini tampak bersiap menghadapi kemungkinan pecahnya kembali konflik besar dengan Iran.
Pesawat-pesawat militer Amerika terus berdatangan ke Israel. Dalam waktu hanya 24 jam, sekitar 6.500 ton amunisi AS dikirim melalui pelabuhan Ashdod dan Haifa sebagai bagian dari jembatan laut dan udara untuk mengisi kembali persediaan perang yang terkuras selama pertempuran terakhir.
Dilansir media Israel dan Al Jazeera, militer Israel saat ini berada dalam status siaga tertinggi. Sistem pertahanan udara, kemampuan serangan, hingga kesiapan pasukan disebut tetap berada pada level maksimal meskipun gencatan senjata masih berlaku.
Channel 12 Israel mengutip sumber militer yang menyebut bahwa perkembangan kawasan terus dipantau dengan serius. Sementara itu, aktivitas di Bandara Ben Gurion dan instruksi komando dalam negeri masih berjalan normal, menandakan Israel berusaha menjaga stabilitas di tengah ancaman eskalasi.
Situasi semakin menegangkan setelah Uni Emirat Arab menjadi sasaran serangan rudal pada Senin lalu. Kementerian Pertahanan UEA mengumumkan bahwa sebagian besar rudal Iran berhasil dicegat, sementara satu rudal jatuh ke laut. Serangan tersebut menyebabkan beberapa korban luka.
Di balik layar, konsultasi intensif antara Washington dan Tel Aviv terus berlangsung. Menurut laporan Israel Hayom, kedua negara sedang membahas berbagai opsi militer terhadap Iran, mulai dari serangan presisi ke peluncur rudal hingga kemungkinan menghantam fasilitas energi strategis Iran.
Meski demikian, Israel disebut belum akan mengambil langkah militer preventif tanpa persetujuan langsung dari Washington.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan menggelar serangkaian rapat keamanan darurat sepanjang hari. Sumber keamanan Israel bahkan memperingatkan bahwa situasi dengan Iran “memburuk dengan cepat” dan ketegangan dapat berlangsung selama beberapa hari ke depan, atau bahkan lebih lama.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Teheran. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menegaskan bahwa Iran akan “dihancurkan dari muka bumi” apabila menyerang kapal-kapal Amerika yang terlibat dalam “Operasi Kebebasan” di Selat Hormuz.
Trump juga mengeklaim bahwa pengerahan militer AS saat ini merupakan salah satu mobilisasi terbesar dalam sejarah modern Amerika. Ia menegaskan bahwa Iran harus segera mencapai kesepakatan dengan “itikad baik”, atau operasi militer akan kembali dilanjutkan.
Dengan meningkatnya pengerahan pasukan, ancaman serangan balasan, dan memanasnya kawasan Teluk, dunia kini kembali menahan napas. Timur Tengah tampaknya belum benar-benar keluar dari bayang-bayang perang besar.


